Wednesday, October 23, 2013

Inferno Bab 17 (terjemahan Indonesia)



BAB 17

PROVOST BERGEGAS keluar dari ruang kendali dan berjalan di sepanjang dek sebelah kanan The Mendacium, berusaha mengumpulkan pikirannya. Apa yang baru saja berlangsung di gedung apartemen Florence tidak dapat terpikirkan.
Dia mengitari seluruh kapal dua kali sebelum menuju kantornya dan mengambil sebotol malt tunggal Highland Park berumur lima puluh tahun. Tanpa menuangkan ke gelas, dia meletakkan botolnya dan memutar punggungnya padanya – pengingat pribadi bahwa dia masih sangat terkontrol.
Setahun yang lalu … Bagaimana aku bisa tahu?
Provost normalnya tidak melakukan interview pada klien prospektif secara personal, tapi yang satu ini datang padanya melalui sumber yang terpercaya, dan sehingga dia membuat sebuah pengecualian.
Hari yang tenang dan mati di laut ketika klien datang ke atas The Mendacium melalui helikopter pribadinya. Pengunjung itu, sosok penting di bidangnya, empat puluh enam, berpotongan bersih, dan luar biasa tinggi, dengan mata hijau menusuk.
“Seperti yang kamu tahu,” lelaki itu memulai, “layananmu direkomendasikan padaku oleh seorang teman yang sama.” Pengunjung itu meregangkan kaki panjangnya dan membuat dirinya seperti di rumah dalam kantor perjanjian provost. “Jadi, biarkan aku mengatakan padamu apa yang aku inginkan.”
“Sebenarnya, jangan,” provost menginterupsi, menunjukkan pada lelaki itu siapa yang berwenang. “Protokoler saya membutuhkan Anda tidak memberi tahu saya apapun. Saya akan menjelaskan  layanan yang saya sediakan, dan Anda akan memutuskan yang mana, jika ada, yang menarik bagi Anda.”
Pengunjung itu terlihat terkejut tapi setuju dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Pada akhirnya, apa yang pendatang baru itu inginkan berubah menjadi santapan yang sangat standar bagi Consortium – secara esensialnya sebuah kesempatan untuk menjadi “tak terlihat” untuk sementara waktu sehingga dia dapat mengejar sebuah usaha jauh dari mata orang yang selalu ingin tahu.
Mainan anak-anak.
The Consortium akan menyelesaikan ini dengan menyediakannya sebuah identitas palsu dan lokasi yang aman, kesemuanya tak berjejak, di mana dia dapat melakukan pekerjaannya dalam kerahasiaan total – apapun pekerjaannya. The Consortium tidak pernah menanyakan untuk tujuan apa seorang klien membutuhkan sebuah layanan, lebih memilih untuk tahu sedikit mungkin tentang dengan siapa mereka bekerja.
Untuk setahun penuh, pada keuntungan yang menakjubkan, provost telah menyediakan perlindungan aman bagi lelaki bermata hijau, yang telah berbalik menjadi seorang klien ideal. Provost tidak melakukan kontak dengannya, dan semua tagihannya dibayar tepat waktu.
Lalu, dua minggu yang lalu, semuanya berubah.
Dengan tak terduga, klien itu membuat kontak, menuntut pertemuan pribadi dengan provost. Mempertimbangkan jumlah uang yang klien itu telah bayarkan, provost menjadi terpaksa.
Lelaki kumal yang datang di yacht dengan jelas dapat dikenali sebagai lelaki ramping, berpotongan bersih yang dengannya provost telah berbisnis setahun lalu. Dia terlihat liar dalam mata hijau tajamnya. Dia terlihat hampir …  sakit.
Apa yang terjadi padanya? Apa yang selama ini dia lakukan?
Provost telah menunjuk lelaki gugup ke dalam kantornya.
“Setan berambut perak,” kliennya gugup. “Dia makin dekat setiap hari.”
Provost menatap file kliennya, mengamati foto dari wanita berambut perak yang menarik. “Ya,” provost berkata, “setan berambut perakmu. Kita semua sadar pada musuhmu. Dan seberkuasanya dia, mungkin, untuk setahun penuh kami telah menjaganya darimu, dan kami akan melanjutkannya seperti itu.”
Lelaki bermata hijau itu dengan cemas memutar-mutar  helaian rambut berminyaknya di seputar ujung jari. “Jangan biarkan kecantikannya membodohimu, dia seorang lawan yang berbahaya.”
Benar, provost berpikir, masih tidak senang bahwa kliennya telah  menggiring perhatian seseorang begitu berpengaruh. Wanita berambut perak mempunyai akses dan sumber daya yang hebat – bukan jenis musuh yang provost maklumi untuk ditepis.
“Jika dia atau setannya mengetahuiku …” klien tersebut memulai.
“Tidak akan,” provost meyakinkannya. “Bukankah kami sejauh ini menyembunyikanmu dan menyediakan semua apa yang kamu minta?”
“Ya,” lelaki itu berkata. “Dan, aku akan tidur lebih mudah jika …” Dia berhenti sejenak, mengelompokkan kembali. “Aku ingin tahu bahwa jika sesuatu terjadi padaku, kamu akan menjalankan pesan terakhirku.”
“Pesan apa itu?”
Lelaki itu meraih ke dalam tas dan menarik keluar amplop kecil bersegel. “Isi amplop ini memberikan akses ke kotak brankas deposito di Florence. Di dalam kotak, kamu akan menemukan sebuah objek kecil. Jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin kamu mengantarkan objek itu untukku. Itu sejenis pemberian.”
“Baik.” Provost mengangkat penanya untuk membuat catatan. “Dan pada siapa saya mengantarkannya?”
“Pada setan berambut perak.”
Provost menatap tajam. “Sebuah pemberian untuk orang yang menyengsarakanmu?”
“Lebih dari duri baginya.” Matanya mengerjap dengan liar. “Sebuah duri kecil yang cerdas dari sebuah tulang. Dia akan menemukan sebuah peta … Virgil personalnya … sebuah pengantar ke pusat neraka pribadinya sendiri.”
Provost mempelajarinya untuk waktu yang lama. “Seperti yang Anda harapkan. Anggap saja sudah dilaksanakan.”
“Waktunya akan menjadi kritis,” lelaki itu mendesak. “Pemberian ini jangan diantarkan terlalu cepat. Kamu haris menyimpannya tersembunyi sampai …” Dia berhenti sejenak, mendadak kehilangan pikiran.
“Sampai kapan?” provost mendorong.
Lelaki itu berdiri dengan tiba-tiba dan berjalan ke belakang meja provost, meraih spidol merah dan dengan cemas melingkari sebuah tanggal pada kalender meja personal provost. “Hingga hari ini.”
Provost mengatur rahangnya dan menghela nafas, menelan ketidaksukaannya atas kelancangan lelaki itu. “Paham,” provost berkata. “Saya tidak akan melakukan apa-apa hingga tanggal yang dilingkari, yang pada waktu itu objek dalam kotak brankas deposito, apapun itu, akan diantarkan pada wanita berambut perak. Anda pegang kata-kata saya.” Dia menghitung hari di kalendernya hingga tanggal yang dilingkari dengan canggung. “Saya akan melaksanakan permintaanmu tepat empat belas hari dari sekarang.”
“Dan bukan sehari sebelumnya!” klien itu memperingatkannya.
“Saya paham,” provost meyakinkan. “Bukan sehari sebelumnya.”
Provost mengambil amplop itu, menyelipkannya ke dalam file lelaki itu, dan membuat catatan yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa harapan kliennya diikuti dengan tepat. Sementara kliennya tidak mendeskripsikan asal tepat dari objek yang berada di dalam kotak brankas deposito, provost lebih memilihnya seperti ini. Detasemen merupakan prinsip dasar dari filosofi Consortium. Sediakan layanan. Tidak bertanya. Tidak menilai.
Bahu kliennya melunak dan dia menghela nafas berat. “Terima kasih.”
“Ada yang lain?” provost bertanya, antusias untuk menghilangkan diri dari kliennya yang berubah.
“Ya, sebenarnya, ini.” Dia meraih ke dalam sakunya dan mengeluarkan stik memori kecil berwarna merah tua. “Ini adalah sebuah file video.” Dia meletakkan stik memori di depan provost. “Aku ingin itu diunggah ke media dunia.”
Provost mempelajari lelaki itu dengan rasa penasaran. The Consortium sering mendistribusikan informasi massa untuk klien, dan sesuatu tentang permintaan lelaki ini terasa tidak terkait. “Pada tanggal yang sama?” provost bertanya, bergerak pada lingkaran yang tergores pada kalendernya.
“Tepat tanggal yang sama,” klien itu menjawab. “Bukan sesaat sebelumnya.”
“Paham.” Provost menandai stik memori merah dengan informasi wajar. “Jadi itu saja?” Dia berdiri, berusaha mengakhiri pertemuan itu.
Kliennya tetap duduk. “Tidak. Ada satu hal terakhir.”
Provost duduk kembali.
Mata hijau klien itu terlihat hampir puas sekarang. “Singkat setelah kamu mengantarkan video ini, aku akan menjadi seseorang yang sangat terkenal.”
Kamu seseorang yang sudah terkenal, provost berpikir, mempertimbangkan pencapaian kliennya yang berkesan.
“Dan kamu akan pantas mendapatkan beberapa rasa hormat,” lelaki itu berkata. “Layanan yang telah kamu sediakan membuatku menghasilkan karya besarku … sebuah opus yang akan mengubah dunia. Kamu hendaknya bangga atas peranmu.”
“Apapun karya besarmu,” provost berkata dengan ketidaksabaran yang menjadi, “Saya senang Anda telah mempunyai privasi yang dibutuhkan untuk membuatnya.”
“Sebagai rasa terima kasih, aku membawakanmu sebuah pemberian.” Lelaki kumal itu meraih ke dalam tasnya. “Sebuah buku.”
Provost mengira jika mungkin buku ini merupakan opus rahasia yang kliennya kerjakan selama ini. “Dan apakah Anda menulis buku ini?”
“Tidak.” Lelaki itu mengangkat sesuatu yang berat ke atas meja. “Justru sebaliknya … buku ini ditulis untukku.”
Bingung, provost mengamati edisi yang kliennya keluarkan. Dia pikir ini ditulis untuknya? Volumenya berupa sastra klasik … ditulis dalam abad keempat belas.
“Bacalah,” klien itu mendesak dengan senyuman yang mengerikan. “Itu akan membantumu memahami apa yang telah aku lakukan.”
Dengan itu, pengunjung kumal berdiri, mengatakan selamat berpisah, dan dengan mendadak pergi. Provost melihat melalui jendela kantornya saat helikopter lelaki itu terangkat dari dek dan mengarah kembali ke pantai Itali.

Kemudian provost mengembalikan perhatiannya pada buku besar di hadapannya. Dengan jari yang tak yakin, dia mengangkat sampul kulit dan membaca bagian awalnya. Stanza pembuka dari karya itu ditulis dalam kaligrafi besar, memenuhi seluruh halaman pertamanya.

INFERNO
Di tengah jalan pada perjalanan hidup kita
Aku menemukan diriku di dalam sebuah hutan yang gelap,
yang jalan setapak ke depan telah hilang.
Pada halaman yang berlawanan, kliennya menandai buku dengan sebuah pesan tulisan tangan:

Temanku, terima kasih untuk membantuku menemukan jalan.
Dunia berterima kasih padamu, juga.

Provost tidak mempunyai ide apa arti semua ini, tapi dia telah cukup membaca. Dia menutup buku dan menempatkannya pada rak bukunya. Bersyukur, ikatan profesionalnya dengan individu aneh ini akan segera berakhir. Empat belas hari lagi, provost berpikir, mengalihkan pandangannya ke lingkaran merah yang tergores dengan kasar pada kalender pribadinya,
Pada hari-hari yang mengikuti, provost merasa secara tak berkarakter menepi tentang klien ini. Lelaki itu serasa menjadi tergantung. Meskipun demikian, di samping intuisi provost, waktu berlalu tanpa halangan.
Kemudian, sesaat sebelum tanggal yang dilingkari, berlangsung rangkaian kejadian cepat yang menimbulkan petaka di Florence. Provost berusaha untuk menangani krisis, tapi hal itu dengan cepat berakselerasi di luar kendali. Krisis itu mencapai klimaks dengan tak bernafasnya kliennya mendaki menara Badia.
Dia melompat … menuju kematiannya.
Di samping kengeriannya atas kehilangan seorang klien, terutama dalam caranya, provost masih menyisakan kata-kata lelaki itu. Dia dengan cepat mulai mempersiapkan untuk membuat bagus janji terakhirnya pada almarhum – mengantarkan isi kotak brankas deposito pada wanita berambut perak – waktunya, yang telah diperingatkan, kritis.
Bukan sebelum tanggal yang dilingkari di kalendermu.
Provost memberikan amplop yang berisi kode kotak brankas deposito di Florence pada Vayentha, yang pergi ke Florence untuk mendapatkan kembali objek yang berada di dalam – “duri kecil yang cerdas” ini. Ketika Vayentha menghubungi, meski demikian, kabarnya mengejutkan dan juga memperingatkan secara mendalam. Isi dari kotak brankas deposito telah dikeluarkan, dan Vayentha baru saja lolos dari penahanan. Bagaimanapun juga, wanita berambut perak telah mempelajari akun dan telah menggunakan pengaruhnya untuk mendaptkan akses ke kotak brankas deposito dan juga untuk menempatkan jaminan tahanan bagi orang lain yang muncul untuk membukanya.
Itu tiga hari yang lalu.
Klien dengan jelas merancang objek purloin menjadi hinaan terakhirnya bagi wanita berambut perak – suara hinaan dari makam.
Dan sekarang itu berbicara terlalu awal.
Consortium berada dalam gerakan yang nekat yang pernah dilakukan – menggunakan semua sumber dayanya untuk melindungi harapan terakhir kliennya, sebaik mungkin. Dalam prosesnya, Consortium telah menyeberangi rangkaian garis dari yang mana provost tahu bahwa itu akan sulit untuk kembali. Sekarang, dengan segalanya tercerai berai di Florence, provost menatap dari deknya dan berharap apa yang masa depan telah pegang.
Pada kalendernya, lingkaran yang tergores liar oleh kliennya menatapnya – lingkaran tinta merah yang menggila di seputar hari yang spesial.
Besok.
Dengan enggan, provost mengamati botol Sctoch di meja di hadapannya. kemudian, untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun, dia menuangkan segelas dan menuntaskannya dalam satu tegukan.


Di dek bawah, fasilitator Laurence Knowlton mengambil stik memori merah kecil dari komputernya dan meletakkannya di atas meja di depannya. Video itu merupakan satu dari hal teraneh yang pernah dia lihat.
Dan tepat sembilan menit lamanya … pada waktunya.
Merasa diperingatkan, dia berdiri dan mondar-mandir di kubikel keclnya, bertanya-tanya lagi apakah dia perlu membagikan video aneh dengan provost.
Hanya lakukan pekerjaanmu, Knowlton berkata pada dirinya sendiri. Tanpa penilaian.
Memaksakan video dari pikirannya, dia menandai papan rencananya dengan tugas yang dikonsfirmasi. Besok, sebagaimana diminta oleh klien, dia akan mengunggah file video pada media.

3 comments:

  1. wah, keren gan.

    i will always waiting for the next chapter....
    ^_^

    ReplyDelete
  2. ditunggu sis...

    ReplyDelete