Monday, January 12, 2015

Inferno Bab 40 (terjemahan Indonesia)



BAB 40

MARTA ALVAREZ GEMETAR di depan kabinet pajangan yang kosong. Dia berharap rasa sesak yang menyebar melalui perutnya adalah karena panik dan bukan rasa sakit menjelang melahirkan.
Topeng kematian Dante hilang!
Dua penjaga keamanan sekarang waspada penuh, setibanya di andito, melihat kotak yang kosong, dan melompat beraksi. Salah satunya langsung menuju ruang kontrol video terdekat untuk mengakses rekaman kamera keamanan semenjak tadi malam, sementara yang seorang lagi baru saja selesai melaporkan pencurian pada polisi melalui telepon.
“La polizia arrivera tra venti minuti!” penjaga itu memberitahu Marta saat dia menutup teleponnya.
“Venti minuti?!” tuntut Marta. Dua puluh menit?! “Kita menghadapi pencurian karya seni besar!”
Penjaga tersebut menjelaskan bahwa dia diberitahu bahwa sebagian besar polisi kota sedang menangani krisis yang jauh lebih serius dan mereka berusaha untuk menemukan agen yang bisa untuk datang dan memberi pernyataan.
“Che cosa portrebbe esserci di piu grave?!” Marta meracau. Apa yang bisa menjadi lebih serius?!
Langdon dan Sienna saling menatap resah, dan Marta merasakan bahwa kedua tamunya sedang menahan beban sensorik yang terlalu berat. Tidak mengejutkan. Baru saja berhenti untuk melihat sekilas pada topeng itu, mereka sekarang menjadi saksi mata, konsekuensi dari pencurian karya seni besar. Tadi malam, entah bagaimana, seseorang mendapatkan akses ke galeri dan mencuri topeng kematian Dante.
Marta tahu ada jeuh lebih banyak benda berharga di museum yang bisa dicuri, jadi dia berusaha bergantung pada rejekinya. Meskipun demikian, ini merupakan pencurian pertama dalam sejarah museum ini. Aku bahkan tidak tahu protokolnya!
Marta tiba-tiba merasa lemas, dan dia kembali meraih salah satu pembatas untuk menyokongnya.
Kedua penjaga galeri muncul dengan kebingungan saat mereka menceritakan kembali pada Marta aksi dan kejadian sebenarnya tadi malam. Sekitar pukul sepuluh malam, Marta masuk dengan il Duomino dan Langdon. Beberapa saat kemudian, ketiganya keluar bersamaan. Penjaga mengunci ulang pintu, menyetel ulang alarm, dan sejauh yang mereka tahu, tak seorangpun masuk atau keluar galeri semenjak itu.
“Mustahil!” Marta memaki dalam bahasa Italia. “Topeng itu ada di kabinet ketika kami bertiga meninggalkannya tadi malam, pastinya seseorang berada di dalam galeri setelah itu!”
Penjaga itu menunjukkan telapak tangannya, terlihat bingung. “Noi non abbiamo visto nessuno!”
Sekarang, dengan polisi sedang dalam perjalanan, Marta bergerak secepat yang diijinkan oleh tubuh hamilnya ke arah ruang kontrol keamanan. Langdon dan Sienna semakin gugup di belakangnya.
Video keamanan, pikir Marta. Itu akan menunjukkan pada kita lebih tepatnya siapa yang berada di sini tadi malam!


Tiga blok dari sana, di Ponte Vecchio, Vayentha bergerak menuju bayangan saat sepasang petugas polisi menyeruak melalui kerumunan, mengkanvas (atau apa istilahnya ya?? –penj.) area dengan foto Langdon.
Saat petugas itu mendekati Vayentha, salah satu radio mereka berbunyi – berita laporan rutin bagi semua unit. Pengumumannya singkat dan dalam bahasa Italia, tapi Vayentha menangkap intinya: Setiap petugas yang ada di area Palazzo Vecchio harus melapor untuk mengambil pernyataan di museum palazzo.
Petugas itu menjawab refleks, tapi Vayentha mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Il Museo di Palazzo Vecchio?
Kegagalan besar tadi malam – kegagalan besar yang merusak karirnya – berlangsung di lorong kecil di luar Palazzo Vecchio.
Laporan polisi itu berlanjut, dalam bahasa Italia yang statis yang sebagian besar tidak dapat dipahami, kecuali dua kata yang terdengar jelas: Dante Alighieri.
Tubuh Vayentha menegang seketika. Dante Alighieri?! Tentunya ini bukanlah kebetulan. Dia berputar ke arah Palazzo Vecchio dan menangkap sebuah menara di puncak atap bangunan terdekat.
Apa yang sebenarnya terjadi di museum? Tanyanya. Dan kapan?!
Mengesampingkan hal-hal khusus, Vayentha telah menjadi analis lapangan cukup lama untuk tahu bahwa “kebetulan” merupakan  hal yang tidak umum daripada yang kebanyakan orang pikirkan. Museum Palazzo Vecchio … DAN Dante? Ini tentunya berkaitan dengan Langdon.
Vayentha sudah menduga bahwa Langdon akan kembali ke kota tua. Hanya terasa – kota  tua adalah tempat Langdon berada tadi malam ketika semuanya mulai menjadi tak terselesaikan.
Sekarang, dalam cahata siang, Vayentha bertanya-tanya jika Langdon entah bagaimana kembali ke area sekitar Palazzo Vecchio untuk menemukan apapun yang sedang dia cari. Dia yakin Langdon tidak menyebarang jembatan ini menuju kota tua. Banyak jembatan lain, dan tampaknnya lebih jauh jika berjalan dari Taman Boboli.
Di bawahnya, dia memperhatikan empat orang dengan mantel regu dayung meluncur melalui air dan melintas di bawah jembatan. Tertulis SOCIETA CANOT-TIERI FIRENZE / KLUB MENDAYUNG FLORENCE di lambung kapalnya. Warna mantel yang merah menyolok – dan – dayung berwarna putih berpadu dalam kesatuan yang sempurna.
Apa Langdon mengambil sebuah perahu untuk menyeberang? Tampak mustahil dan sesuatu memberitahunya, laporan polisi mengenai Palazzo Vecchio merupakan sebuah isyarat yang semestinya dia perhatikan.
“Tidak ada kamera, per favore!” seorang wanita memanggil dalam bahasa inggris beraksen.
Vayentha berbalik dan melihat pom-pom jingga berumbai berkibar di sebuah tongkat saat seorang pemandu wisata wanita berusaha menggiring sekelompok barisan wisatawan melintasi Ponte Vecchio.
“Di atas kalian adalah mahakarya terbesar Vasari!” pemandu itu berteriak dengan antusiasme yang terlatih, mengangkat pom-pomnya ke udara dan mengarahkan pandangan setiap orang ke atas.
Vayentha tidak memperhatikannya sebelumnya, tapi di sana terdapat struktur lantai dua yang melintang di atas pertokoan seperti sebuah apartemen kecil.
“Koridor Vasari,” pemandu itu mengumumkan. “Sepanjang hampir satu kilometer dan menyediakan jalur aman bagi keluarga Medici antara Pitti Palace dan Palazzo Vechio.”
Mata Vayentha terbelalak saat dia menyadari struktur serupa terowongan di atasnya. Dia pernah mendengar tentang koridor itu, tapi hanya tahu sangat sedikit tentangnya.
Itu mengarah ke Palazzo Vecchio?
“Bagi mereka dengan koneksi VIP, yang hanya sedikit jumlahnya,” pemandu itu melanjutkan, “mereka dapat mengakses koridor bahkan sampai sekarang. Itu merupakan sebuah galeri seni yang menakjubkan yang membentang sepanjang Palazzo Vecchio ke sudut timur laut Taman Boboli.”
Apapun yang dikatakan oleh pemandu wisata itu selanjutnya, Vayentha tidak mendengar.
Dia telah berlari ke sepeda motornya.

2 comments:

  1. Tks neng, ditunggu terus kelanjutannya..

    ReplyDelete
  2. chemwunguutt sis...:))

    ReplyDelete