Tuesday, July 2, 2013

Dan Brown - Inferno (Terjemah Indonesia sneak peak)

Beberapa bulan kemarin, sempat sumringah saat ada kabar Dan Brown rilis novel terbarunya "Inferno". Sebagai penggemar novel bergenre thriller tak ketinggalan donk nunggu rilisnya. E-book udah di tangan sayang masih English version. So karena ada temen nyletuk "Jadi pengen baca, kamu terjemahin aja dulu, tar aku baru mulai baca.Gak paham bahasa inggris nih. nunggu versi Indonesia masih lama", jadi deh bikin postingan perdana di dunia blog ini sekaligus sneak peak Prolog s/d Bab I. Untuk bab selanjutnya nyusul ya...maklum full kerjaan+skill english yang pas2an menjadi penghambat utama. But so far, bisa memuaskan keingintahuan penikmat novel, khususnya karya Dan Brown. Biar besok pada nguber novel versi Indonesianya. So...Selamat Membaca!!! :-)





Tentang Buku

‘Cari dan kamu akan temukan’

Dengan kata-kata ini menggema di kepalanya, simbolog terkenal Harvard, Robert Langdon, terbangun di sebuah ranjang rumah sakit tanpa ingatan di mana dia berada ataupun bagaimana dia bisa berada di sana. Juga tidak bisa menjelaskan asal objek mengerikan yang ditemukan tersembunyi dalam barang-barangnya.

Ancaman pada nyawanya akan mendorongnya dan seorang dokter muda, Sienna Brooks, menuju pengejaran berbahaya melalui kota Florence. Hanya pengetahuan Langdon akan lorong-lorong tersembunyi dan rahasia kuno yang tersembunyi dibelakang penglihatan historiknya dapat menyelamatkan mereka dari cengkeraman pengejar yang tidak mereka ketahui.

Hanya dengan sedikit baris dari karya gelap dan epik Dante, The Inferno, untuk memandunya, mereka harus menguraikan urutan kode-kode yang tertanam dalam di beberapa artefak paling terkenal masa Renaissance – patung, lukisan, bangunan – untuk menemukan jawaban sebuah teka-teki yang mungkin, atau tidak mungkin, membantu mereka menyelamatkan dunia dari ancaman yang menakutkan….

Mengambil setting pemandangan luar biasa yang terinspirasi oleh salah satu sastra klasik paling menyenangkan dalam sejarah, Inferno merupakan novel Dan Brown yang paling menarik dan menguras pemikiran, thriller memburu waktu yang melelahkan akan membawa Anda dari halaman satu dan tidak mengijinkan Anda beranjak hingga menutup buku.

FAKTA:

Semua karya seni, literatur, ilmu, dan referensi sejarah dalam novel ini adalah nyata.

“The Consortium” adalah sebuah organisasi rahasia dengan kantor di tujuh negara. Namanya telah diubah untuk kepentingan keamanan dan privasi.

Inferno” adalah neraka sebagaimana digambarkan dam puisi epik karya Dante Alighieri, The Divine Comedy, yang menggambarkan neraka merupakan sebuah struktur rumit alam yang dihuni oleh kesatuan yang dikenal sebagai “Shades” – jiwa tanpa tubuh yang terperangkap antara hidup dan mati.


 
PROLOG

Akulah Shade
Melalui kota dolent, aku kabur
Melalui celaka yang kekal, aku terbang.

Sepanjang tepian Sungai Arno, aku berjuang, terengah-engah … membelok ke kiri menuju Via dei Castellani, meneruskan langkahku ke utara, berkerumun dalam bayang-bayang Uffizi.
Dan mereka masih mengejarku.
Langkah kaki mereka sekarang makin keras saat mereka berburu dengan tekad tanpa henti.
Bertahun-tahun mereka mengejarku. Ketekunan mereka membuatku tetap bersembunyi … memaksaku untuk hidup di sela gunung … bekerja di bawah bumi seperti seekor monster chthonic.
Akulah Shade.
Di sini di permukaan, aku membuka mataku ke utara, tapi aku tidak bisa menemukan jalur langsung menuju keselamatan … hingga Pegunungan Apennine menghapus cahaya pertama fajar.
Aku melewati bagian belakang palazzo dengan menaranya dan seratus jam … mengular melalui penjaja dini hari di Piazza di San Firenze dengan suara-suara seraknya beraromakan lampredotto dan zaitun panggang. Menyeberang sebelum Bargello, aku memotong ke barat menuju puncak menara Badia dan memanjat gerbang besi di bagian dasar anak tangga.
Di sini semua keragu-raguan harus ditinggalkan.
Aku memutar pegangannya dan melangkah ke lorong yang aku tahu bahwa di sana tidak akan ada jalan untuk kembali. Aku memaksa kakiku menuju tangga sempit … memutar menuju angkasa di atas tapak marmer halus, berbintik, dan usang.
Suara-suara menggema dari bawah. Memohon.
Mereka di belakangku, tanpa hasil, mendekat.
Mereka tidak paham apa yang datang…juga apa yang telah kulakukan untuk mereka!
Berterimakasihlah pada tanah!
Semakin aku mendaki, penglihatan menjadi susah … tubuh penuh nafsu menggeliat dalam hujan api, jiwa rakus mengapung di kotoran, penjahat berbahaya membeku dalam genggaman es Setan.
Aku memanjat anak tangga terakhir dan sampai di puncak, sempoyongan mendekati kematian menuju udara pagi yang lembab. Aku buru-buru menuju dinding setinggi kepala, mengintip melalui celah. Jauh di bawah adalah kota yang terberkati yang telah menjadi perlindunganku dari mereka yang mengasingkanku.
Suara-suara memanggil, mendekat di belakangku, “Apa yang kamu lakukan adalah kegilaan!”
Kegilaan melahirkan kegilaan.
“Demi kasih Tuhan,” mereka berteriak, “Beri tahu kami di mana kamu telah menyembunyikannya!”
Untuk tepatnya demi kasih Tuhan, aku tidak akan.
Aku berdiri sekarang, terpojok, punggungku pada batu yang dingin. Mereka menatap dalam ke mata hijau jernihku, dan ekspresi mereka semakin gelap, tidak lagi membujuk, tapi mengancam, “Kamu tahu kami mempunyai cara sendiri. Kami dapat memaksamu untuk memberi tahu kami dimana itu.”
Untuk alasan itu, aku telah mendaki separuh jalan ke surga.
Tanpa peringatan, aku memutar dan menggapai, melingkarkan jariku pada langkan tinggi, menarik tubuhku ke atas, susah payah memanjat dengan kakiku, kemudian berdiri … tidak mantap pada jurang. Bimbing aku, wahai Virgil, melewati kekosongan.
Mereka menghambur ke depan dalam ketidakpercayaan, ingin meraih kakiku, tapi takut mereka akan mengganggu keseimbanganku dan membunuhku. Mereka memohon sekarang, dalam keputusasaan, tapi aku telah memutar punggungku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Di bawahku, berputar jauh di bawahku, barisan atap merah menghampar bagaikan lautan api di pedesaan, menerangi tanah adil di mana raksasa sesekali berkeliaran … Giotto, Donatello, Brunelleschi, Michelangelo, Botticelli.
Aku melangkahkan tungkaiku setapak ke bagian tepi.
“Turunlah!” Mereka berteriak. “Ini belum terlambat!”
O, bodoh! Tidakkah kalian melihat masa depan? Tidakkah kalian memahami kemegahan ciptaanku? Kebutuhan?
Aku akan bahagia membuat pengorbanan terakhir ini … dan dengan itu aku akan memusnahkan harapan terakhir kalian  untuk menemukan apa yang kalian cari.
Kalian tidak akan pernah menemukannya tepat waktu.
Ratusan kaki di bawah, piazza batu besar mengundang seperti oase yang tenang. Bagaimana aku mengulur waktu lebih banyak … tapi waktu adalah komoditas utama, bahkan keberuntunganku yang luas tidak dapat mengusahakannya.
Di detik-detik terakhir ini, aku menatap ke bawah pada piazza, dan aku melihat sebuah pandangan yang mengagetkanku.
Aku melihat wajahmu.
Kamu menatap ke atas padaku dari bayangan. Matamu sedih, dan di dalamnya aku merasakan rasa hormat yang mendalam untuk apa yang telah aku capai. Kamu paham aku tidak mempunyai pilihan. Demi kasih umat manusia, aku harus melindungi karya besarku.
Hal itu bahkan tumbuh sekarang … menunggu … mendidih di bawah air merah darah laguna yang merefleksikan tiada satupun bintang.
Dan aku mengangkat mataku dari matamu dan aku menatap cakrawala. Jauh di atas dunia yang terbakar ini, aku membuat permohonan terakhirku.
Wahai Tuhan, aku berdoa agar dunia mengingat namaku bukan sebagai seorang pendosa yang mengerikan, tetapi sebagai penyelamat mulia yang Kamu tahu sejatinya diriku. Aku berdoa semoga umat manusia akan memahami pemberian yang aku tinggalkan.
Pemberianku adalah masa depan.
Pemberianku adalah keselamatan.
Pemberianku adalah Inferno.
Dengan itu, aku membisikkan amin … dan mengambil langkah terakhirku, menuju lubang yang dalam.

BAB I

Kenangan perlahan menjadi kenyataan … seperti gelembung menuju permukaan dari kegelapan sumur tanpa dasar.
            Seorang wanita berkerudung.
Robert Langdon menatapnya di seberang sungai yang airnya bergejolak menjadi merah dengan darah. Di seberang tepian, wanita itu berdiri menghadapnya, tak bergerak, khidmat, wajahnya tertutup oleh selembar kain kafan. Di tangannya, dia mencengkeram baju tainia biru, yang sekarang dia angkat sebagai penghormatan pada lautan mayat di kakinya. Aroma kematian tergantung di segala penjuru.
Cari, wanita itu berbisik. Dan kamu akan temukan.
Langdon mendengar kata-kata itu seperti dia mengucapkannya di dalam kepalanya. “Siapa kamu?” Langdon berteriak, tapi suaranya tak bisa keluar.
Waktu memendek, dia berbisik. Cari dan temukan.
Langdon melangkah menuju sungai, tapi dia dapat melihat airnya semerah darah dan terlalu dalam untuk melintas. Ketika Langdon mengangkat matanya lagi pada wanita berkerudung, tubuh itu berlipat ganda pada kakinya. Mereka menjadi ratusan sekarang, mungkin ribuan, beberapa masih hidup, menggeliat dalam kesakitan, sekarat kematian yang tidak dapat dipikirkan … dilahap api, terkubur dalam kotoran, saling lahap satu sama lain. Langdon dapat mendengar tangisan sedih manusia menderita menggema di air.
Wanita itu bergerak kepadanya, mengulurkan tangan rampingnya, mengisyaratkan minta bantuan.
“Siapa kamu?!” Langdon kembali berteriak.
Sebagai responnya, wanita itu menggapai dan perlahan mengangkat kerudung dari wajahnya. Dia sangat cantik, dan lebih tua dari yang diperkirakan Langdon – 60 tahun mungkin, agung dan kuat, seperti patung abadi. Dia memiliki rahang yang tegas, mata dalam penuh perasaan, dan rambut abu-abu perak panjang yang mengikal melewati bahunya. Liontin lapis azuli tergantung di lehernya – seekor ular yang melingkari sebuah tongkat.
Langdon merasa mengenalnya … mempercayainya. Tapi bagaimana? Mengapa?
Wanita itu sekarang menunjuk pada sepasang tungkai yang menggeliat, menjulur terbalik dari bumi, tampaknya milik beberapa jiwa malang yang dikubur kepalanya terlebih dulu hingga pinggangnya. Paha pucat seorang pria yang tercantum sebuah huruf – tertulis dengan lumpur – R.
R? Langdon berpikir, tak yakin. Sebagaimana dalam … Robert? “apakah itu … aku?”
Wajah wanita itu tak mengungkapkan sesuatu. Cari dan temukan, dia mengulanginya.
Tanpa peringatan, wanita itu mulai memancarkan cahaya putih … terang dan semakin terang, seluruh tubunya mulai bergetar hebat, dan kemudian, secepat kilat, dia meledak menjadi ribuan keping cahaya.
Langdon terlonjak bangun, berteriak.
Ruangan itu terang. Dia sendiri. Aroma tajam alkohol medis tergantung di udara, dan di suatu tempat sebuah mesin berbunyi seirama dengan jantungnya. Langdon berusaha menggerakkan lengan kanannya, tapi rasa sakit yang menusuk menahannya. Dia menunduk dan melihat sebuah infus tertancap di kulit lengan bawahnya.
Denyut nadinya menjadi cepat, dan mesinnya memacu, berbunyi semakin cepat.
Di mana aku? Apa yang terjadi?
Bagian belakang kepala Langdon berdenyut, rasa sakit yang menggigit. Dengan hati-hati, dia menggapai dengan tangannya yang bebas dan menyentuh kulit kepalanya, berusaha menemukan sumber sakit kepalanya. Di bawah rambut kusutnya, dia menemukan pusat dari selusin jahitan yang berlumur darah kering.
Dia menutup matanya, berusaha mengingat sebuah kecelakaan.
Tak ada. Kosong total.
Berpikir.
Hanya gelap.
Seorang pria dengan seragam rumah sakit segera masuk, rupanya diperingatkan oleh monitor jantung Langdon yang memacu. Dia memiliki jenggot kasar, kumis tebal, dan mata lembut yang memancarkan ketenangan dalam dibawah alis lebatnya.
“Apa yang … terjadi?” Langdon mengendalikan diri. “Apa aku mengalami kecelakaan?”
Pria berjanggut meletakkan jari di bibirnya, dan segera keluar, memanggil seseorang di hall bawah.
Langdon memutar kepalanya, tapi gerakannya mengirimkan sakit yang menusuk yang terpancar melalui tengkoraknya. Dia mengambil nafas dalam dan membiarkan rasa sakit itu berlalu. Kemudian, dengan lembut dan dengan cara tertentu, dia menilik sekelilingnya yang steril.
Ruang rumah sakit dengan ranjang tunggal. Tak ada bunga. Tak ada kartu. Langdon melihat pakaiannya di atas meja di dekatnya, terlipat di dalam tas plastik bening. Mereka tertutup oleh darah.
Oh Tuhan. Pasti sesuatu yang buruk.
Sekarang Langdon memutar kepalanya sangat perlahan ke arah jendela disamping ranjangnya. Di luar gelap. Malam. Yang dapat Langdon lihat di kaca hanyalah pantulan dirinya – seorang asing kelabu, pucat dan lelah, terhubung pada selang dan kabel, dikelilingi oleh peralatan medis.
Suara-suara mendekat di hall, dan Langson memutar tatapannya ke arah ruangan. Dokternya kembali, sekarang ditemani oleh seorang wanita.
Dia tampak berusia di awal tigapuluhan. Dia mengenakan seragam rumah sakit berwarna biru dan mengikat rambut pirangnya ke belakang, dalam sebuah kuncir ekor kuda tebal yang mengayun di belakangnya saat dia berjalan.
“Saya dr. Sienna Brooks,” dia berkata, memberikan senyuman pada Langdon saat dia masuk. “Saya akan bekerja dengan dr. Marconi malam ini.”
Langdon mengangguk lemah.
Tinggi dan lincah, dr. Brooks bergerak dengan gerakan tegas seorang atlet. Bahkan dalam baju yang tak berbentuk, dia ramping dan elegan. Meskipun tak ada makeup yang Langdon bisa lihat, kulitnya tampak luar biasa lembut, satu-satunya cacat adalah sebuah tanda kecil yang cantik di atas bibirnya. Matanya, meskipun coklat lembut, tampak luar biasa tajam, seolah-olah telah menyaksikan pengalaman yang dalam yang jarang ditemui pada orang seusianya.
“dr. Marconi tidak bisa berbicara banyak dalam Bahasa Inggris,” dia berkata, duduk di sampingnya, “dan beliau meminta saya untuk mengisi formulir masuk Anda,” Dia memberi Langdon senyuman.
“Terima kasih,” ucap Langdon serak.
“Oke,” dia memulai, nadanya resmi. “Siapa nama Anda?”
Butuh sedikit waktu. “Robert … Langdon.”
Dia menyorotkan senter kecil pada mata Langdon. “Pekerjaan?”
Informasi ini muncul bahkan lebih pelan. “Profesor. Sejarah seni … dan simbologi. Universitas Harvard.”
Dr. Brooks menurunkan senternya, tampak terkejut. Dokter dengan alis lebat juga sama terkejutnya.
“Anda … orang Amerika?”
Langdon menatapnya bingung.
“Hanya …” Dia ragu-ragu. “Anda tidak memiliki identitas ketika Anda datang semalam. Anda mengenakan Harris Tweed dan sepatu kasual Somerset, jadi kami kira orang Inggris.”
“Saya orang Amerika,” Langdon meyakinkannya, terlalu lelah untuk menjelaskan pilihannya untuk berpakaian baju yang bagus.
“Adakah yang sakit?”
“Kepalaku.” Langdon menjawab, tengkoraknya yang berdenyut hanya semakin memburuk oleh cahaya senter. Untungnya, dia sekarang memasukkannya ke saku, meraih pergelangan tangan Langdon dan mengecek denyutnya.
“Anda bangun dengan berteriak,” wanita itu berkata. “Apakah Anda ingat kenapa?”
Langdon teringat kembali pada penglihatan aneh wanita bertudung yang dikelilingi oleh tubuh-tubuh yang menggeliat. Cari dan kamu akan temukan. “Aku mengalami mimpi buruk.”
“Tentang?”
Langdon memberitahunya.
Eksperesi dr. Brooks tetap netral saat dia membuat catatan pada sebuah clipboard. “Tahukah apa yang mungkin memicu suatu penglihatan menakutkan?”
Langdon menggali ingatannya dan kemudian menggelengkan kepalanya.
“Oke, Pak Langdon,” dia berkata, masih menulis, “Sepasang pertanyaan rutin untukmu. Hari apa ini?”
Langdon berpikir sejenak. “Ini Sabtu. Aku ingat awal hari ini berjalan menelusuri kampus … pergi ke rangkaian kuliah sore hari, dan kemudian … sebanyak itu hal terakhir yang aku ingat. Apakah aku jatuh?”
“Kita akan menuju ke sana. Apakah Anda tahu dimana Anda sekarang?”
Langdon mengambil tebakan terbaiknya. “Rumah Sakit Umum Massachussets?”
Dr. Brooks membuat catatan yang lain. “Dan adakah seseorang yang dapat kami hubungi untukmu? Istri? Anak?”
“Tak ada,” Langdon menjawab berdasarkan insting. Dia selalu menikmati kesendirian dan kebebasan yang tersedia dari pilihan hidup kesarjanaan, meskipun dia akui, dalam situasi seperti ini, dia memilih untuk mempunyai wajah yang familiar di sisinya. “Ada beberapa kolega yang dapat aku hubungi, tapi aku baik-baik saja.”
Dr. Brooks selesai menulis, dan dokter yang lebih tua mendekat. Mengusap alis tebalnya, dia mengeluarkan sebuah perekam suara kecil dari sakunya dan menunjukkannya pada dr. Brooks. Dia mengangguk paham dan berbalik pada pasiennya.
“Pak Langdon, ketika Anda datang semalam, Anda menggumamkan sesuatu berkali-kali.” Dia melihat sekilas pada dr. Marconi, yang mengangkat perekam digital dan menekan sebuah tombol.
Rekaman mulai dimainkan, dan Langdon mendengar suaranya sendiri yang goyah, berulang kali menggumamkan frase yang sama: “Ve … sorry. Ve … sorry.”
“Bagiku terdengar,” wanita itu berkata, “seperti Anda mengatakan, ‘Very sorry. Very sorry.’
Langdon setuju, dan karena tidak ada ingatan tentang hal itu.
Dr. Brooks menatapnya dengan pandangan intens yang mengganggu. “Tahukah Anda kenapa Anda mengatakan ini? Apakah Anda meminta maaf tentang sesuatu?”
Saat Langdon menggali sisa gelap ingatannya, dia kembali melihat wanita bertudung. Dia berdiri di tepian sungai semerah darah dikelilingi oleh tubuh-tubuh. Bau kematian kembali.
Langdon mengatasi insting rasa bahaya dan tiba-tiba … bukan hanya untuk dirinya sendiri … tapi untuk semua orang. Bunyi monitor jantungnya berakselerasi dengan cepat. Ototnya mengencang, dan dia berusaha untuk bangkit.
Dr. Brooks dengan cepat meletakkan tangan kuar pada tulang paha Langdon, memaksanya kembali. Dia memberikan tatapan pada dokter berjanggut, yang berjalan ke meja di dekatnya dan mulai menyiapkan sesuatu.
Dr. Brooks mendekati Langdon, berbisik sekarang. “Pak Langdon, kegelisahan adalah hal umum dalam cedera otak, tapi Anda perlu menjaga tingkat denyut nadi Anda tetap rendah. Tanpa gerakan. Tanpa ketertarikan. Hanya berbaringlah dan beristirahat. Anda akan baik-baik saja. Ingatan Anda akan kembali secara perlahan.”
Dokter berjanggut sekarang kembali dengan sebuah suntikan, yang dia serahkan ke dr. Brooks. Dia menginjeksikan isinya pada infus Langdon.
“Hanya bius ringan untuk menenangkanmu,” dia menjelaskan, “dan juga untuk membantu rasa sakitmu.” Dia berdiri untuk pergi. “Anda akan baik-baik saja, Pak Langdon. Tidurlah. Jika Anda membutuhkan sesuatu, tekan tombol di sisi tempat tidurmu.”
Dia mematikan lampu dan beranjak dengan dokter berjanggut.
Dalam kegelapan, Langdon merasa obat-obatan membasuh sistem organnya hampir secara instan, menyeret tubuhnya kembali pada sumur dalam, tempat dia tadi berasal. Dia berkelahi dengan perasaannya, memaksa matanya terbuka dalam kegelapan kamarnya. Dia berusaha bangkit, tapi tubuhnya terasa seperti semen.
Saat Langdon bergeser, dia menemukan dirinya lagi, menatap jendela. Lampu mati, dan dalam gelapnya kaca, refleksi dirinya menghilang, tergantikan oleh kaki langit yang terang di kejauhan.
Di tengah-tengah kontur menara dan kubah, sebuah penampakan tunggal yang megah mendominasi pandangan Langdon. Bangunan itu adalah benteng batu yang mengesankan dengan sebuah sandaran berlekuk dan menara tiga ratus kaki yang menggembung di dekat puncaknya, menggembung keluar ke benteng machicolated yang besar.
Langdon terduduk segera di ranjangnya, rasa sakit meledak di kepalanya. Dia berjuang melawan denyutan yang menyakitkan dan menajamkan pandangan pada menara itu.
Langdon mengetahui struktur abad pertengahan dengan baik.
Hal itu unik di dunia.
Sayangnya, itu juga berlokasi empat ribu mil dari Massachussets.
-------------------------
Di luar jendela, tersembunyi dalam bayangan Via Torregalli, seorang wanita yang terlatih kuat, tanpa perlu banyak usaha menaiki sepeda motor BMW-nya dan menjalankannya dengan intensitas seekor harimau kumbang mengejar mangsanya. Pandangannya tajam. Rambut pendeknya – dengan style spike – menonjol melawan kerah terbalik dari baju kulitnya. Dia mengecek senjata bungkamnya, dan menatap pada jendela dimana lampu Robert Langdon baru saja padam.
Awal malam ini misi aslinya menjadi kacau dan mengerikan.
Kukukan seekor merpati telah mengubah segalanya.
Sekarang dia datang untuk memperbaikinya.

24 comments:

  1. sangat menarik, saya juga menyukai karya Dan Brown

    ReplyDelete
  2. Next book I must read.!!!

    Selain Dan Brown, Ada lagi ngak ya penulis thriller yang recomended?
    suka banget sama genre ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum nemu yg keren sih gan...
      paling crime gitu genrenya,smacam karen rose dkk...

      Delete
    2. Ada, coba baca karya Scott Mariani, salah satu novelnya, The Alchemist, sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Menurut saya novel Mariani bergenre sama dengan Dan Brown. Cobain The Alchemist dulu.

      Delete
    3. ada, bukunya agatha christie tuh, tapi lebih ke pemecahan misteri gitu

      Delete
  3. Coba karya umberto eco yg foucoult pendulum n' raymond khoury

    ReplyDelete
  4. Maaf ne dibuat dalam bentuk ebook dong biar enak bacanya :D kalau seperti ini pusing juga hehhehe **just saran ^,^

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengennya gitu sih...cm berhubung ini jg baru in progress jd blm berani bikin ebook...
      maklum lg dikejar2 kampus (jadi DPO gitu ceritanya,hehehe)

      Delete
  5. saya dukung sepenuhnya usaha mbak,

    ReplyDelete
  6. ditunggu lanjutannya mbak. memang keren nih cerita inferno

    ReplyDelete
  7. ditunggu lanjutannya kaaaak...
    serius..serius bangett...
    ^^

    ReplyDelete
  8. wah keren niih... saya cari2 buku ini... makasih ya mbak...

    ReplyDelete
  9. Ya Allah. Thanks banget udh posting novel Invernonya Dan Brown.Sumpah,histeris bnget waktu googling . padahal dulu dulu aq googling gak ada. Kebanyakan masih bhs inggris. Sekali lagi thank. Semoga ngak telat posting. Ya. :-D :-D

    ReplyDelete
  10. thaks broow,
    ini yg saya cari2 sleama ini :p

    ReplyDelete
  11. terima kasih sudah mau tl....ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  12. ada link untuk download novel inferno ga sist? :)

    ReplyDelete
  13. penasaran bangetzzzz
    tapi g ngerti bhs inggris :'(

    ReplyDelete
  14. Aku dah baca novelnya, menurutku yang kurang itu pas di endingnya kurang klimaks...
    tapi fakta yang dibeberkan bener" harus di telaah oleh kita semua, karena itu bener" akan terjadi jika populasi manusia semakin tidak tercontrol

    ReplyDelete

Followers

Google+ Followers

PC World Latest Technology News

Japanese Art